Suro Month Wedding Prohibition: Islamic Perspective Customary Law Debate

  • Alfalachu Indiantoro Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Indonesia
  • Aries Isnandar Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Indonesia
  • Johan Fendy Pratama Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Indonesia
  • Ferry Irawan Febriansyah Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Indonesia
  • Yogi Prasetyo Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Indonesia

Abstract

The Javanese tradition of avoiding marriage in the month of Suro is highly upheld, especially by the community. It is widely believed that marriage in the month of Suro will bring danger to the bride and groom, whereas in the Islamic concept, there is no prohibition against marriage in the month of Suro (Muharram). Departing from these reasons, the purpose of this study is to describe two different views of Islamic teachings and Javanese cultural traditions that have continued to contradict each other from ancient times to the present. This research is set in Ponorogo Regency, East Java. The research method used is qualitative with a sociological empirical juridical approach. The primary data used are facts about human behaviour and written documents from traditional leaders, religious leaders and related people. Using interviews and documentation for data collection, then analyzed using sociological empirical juridical. The results of the study show that the philosophical meaning of the prohibition of marriage in the month of Suro that occurs in Javanese society, especially in Ponorogo Regency, can be divided into two sides based on Paul Ricoeur's theory, namely the meaning of the prohibition from the side of the text maker and the side of the recipient/reader of the text. From the perspective of these two sides, then the philosophical meaning contained in the tradition of prohibiting marriage in the month of Suro can be concluded as a syncretism meaning between Javanese religions and cultures.

Downloads

Download data is not yet available.

References

[1] Aisa, A., Hidayah, N., Putra, W. H., Irfan, M. A., Husniah, L. N. C., & Fajariyah, L. (2022). Meningkatkan Pemahaman Konsep Pernikahan dalam Pandangan“Fiqih Munakahat” pada Pemuda Pemudi di Desa Sidomulyo. Jumat Keagamaan: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(3).
[2] Anis, M. (2014). Suran: Upacara Tradisional dalam Masyarakat Jawa. Jurnal Seuneubok Lada, 1(2), 53–60.
[3] Aryanti, R., & Zafi, A. A. (2020). Tradisi Satu Suro di Tanah Jawa Dalam Perspektif Hukum Islam. AL-IMAN: Jurnal Keislaman Dan Kemasyarakatan, 4(2), 342 – 361.
[4] Aswoyo, J. (2014). Upacara Ritual Suran Sebagai Sarana Pelestarian Kesenian. Jurnal Penelitian Seni Budaya, 6(1), 43–57.
[5] Aziz, S. (2017). Tradisi Pernikahan Adat Jawa Keraton Membentuk Keluarga Sakinah. IBDA` : Jurnal Kajian Islam Dan Budaya, 15(1), 22–41. https://doi.org/10.24090/ibda.v15i1.724
[6] Bemmelen, S. T. van, & Grijns, M. (2018). Relevansi Kajian Hukum Adat: Kasus Perkawinan Anak Dari Masa Ke Masa. MIMBAR HUKUM, 30(3), 516–543.
[7] Djun’astuti, E., Tahir, M., & Marnita. (2022). Studi Komparatif Larangan Perkawinan Antara Hukum Adat, Hukum Perdata dan Hukum Islam. Al-Manhaj: Jurnal Hukum Dan Pranata Sosial Islam, 4(2), 119–128. https://doi.org/10.37680/almanhaj.v4i1.1574
[8] Faruk, A. (2016). Manusia Jawa Dalam Islamisasi Jawa Refleksi Filsafat Antropologi Metafisik terhadap Temuan Ricklefs. Kodifikasia, 10(1).
[9] Gramidia, T. R. N., & Setyawan, B. W. (2022). Akulturasi Budaya Dalam Tradisi Satu Suro Di Lereng Gunung Kawi Kabupaten Malang. SOSFILKOM, 16(1), 9–14.
[10] Hermawan, I. (2015). Masjid pada Masyarakat Adat di Jawa Barat. Buletin Al-Turas, 21(2), 255–268. https://doi.org/10.15408/bat.v21i2.3841
[11] Ikhwan, A. (2014). Model Organisasi Ideal Bagi Perguruan Tinggi Islam di Indonesia. EDUKASI: Jurnal Pendidikan Islam (e-Journal), 2(1), 401–411.
[12] Ikhwan, A. (2018). Filsafat Pendidikan Islam: Memahami Prinsip Dasar. Yogyakarta: Diandra Kreatif.
[13] Ikhwan, A. (2021). Metode Penelitian Dasar (Mengenal Model Penelitian dan Sistematikanya). Tulungagung: STAI Muhammadiyah Tulungagung.
[14] Izzi, A. I., Salikin, A. D., & Fatimah, S. (2021). Relasi Agama Dan Budaya Dalam Pernikahan Di Keraton Cirebon Perspektif Hukum Islam Dan Filsafat Sosial Budaya. INKLUSIF (Jurnal Pengkajian Penelitian Ekonomi Dan Hukum Islam), 6(1), 35–49. https://doi.org/10.24235/inklusif.v6i1.8434
[15] Japarudin. (2017). Tradisi Bulan Muharam di Indonesia. Tsaqofah & Tarikh, 2(2), 167–180.
[16] Lestari, A., Hambali, & Haryono. (2020). Persepsi Masyarakat Terhadap Larangan Pernikahan Pada Bulan Suro Dalam Adat Jawa Di Desa Rumbai Jaya Kecamatan Kempas Kabupaten Indragiri Hilir. Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, 7(2), 1–15.
[17] Ma’ruf, M. I., Abbas, M., & Sari, I. (2021). Tradisi Suroan Masyarakat Jawa Desa Sidoharjo-1 Pasar Miring Kecamatan Pagar Merbau Kabupaten Deli Serdang Ditinjau Dari Aqidah Islam. Center of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat, 1(1), 153–165.
[18] Mardiantari, A., Farida, A., Dimyati, M., Dwilestari, I., & Nurkholis. (2022). Tradisi Masyarakat Adat Jawa Terhadap Pantangan Pernikahan Di Bulan Muharam Perspektif Hukum Islam. At-Tahdzib: Jurnal Studi Islam Dan Muamalah, 10(2), 69–78. https://doi.org/http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/tahdzib/article/view/4955
[19] Minan, M. S., & Thobroni, A. (2021). Pandangan Tokoh Masyarakat Terhadap Pernikahan Dibulan Muharram dalam Perspektif Hukum Islam. Prosiding Konstelasi Ilmiah Mahasiswa Unissula (KIMU) 5, 283–290.
[20] Nurdiani, P. (2013). Bulan Sura Dalam Perspektif Islam. IBDA` : Jurnal Kajian Islam Dan Budaya, 11(1), 111–118. https://doi.org/10.24090/ibda.v11i1.72
[21] Nurnazli. (2015). Wawasan Al-Qur’an Tentang Anjuran Pernikahan. Ijtimaiyya: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, 8(2).
[22] Prayitno, M. H., & Ishaq, Z. (2022). Larangan Menikah di Bulan Suro Perspektif Hukum Adat Jawa dan Hukum Islam (Studi Kasus di Desa Ngampelrejo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban). JOSH: Journal of Sharia, 1(2), 163–185. https://doi.org/10.55352/josh.v1i2.596
[23] Purwo. (2020). Grebeg Suro Sebagai Aktualisasi Diri Masyarakat Ponorogo (Sebuah Kajian Etnografi Di Ponorogo). EDUSCOTECH, 2(1), 24–42.
[24] Qoyyimah, A. L. N., & Sabardila, A. (2021). Persepsi Masyarakat Dan Nilai-Nilai Terhadap Peringatan Haul Ki Ageng Singoprono Pada Bulan Sura. ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial Dan Budaya, 10(2), 157–171. https://doi.org/10.33772/etnoreflika.v10i2.1062
[25] Rani, A. P., Chaniago, D. S., & Syarifuddin. (2019). Insakralitas Pemilihan Jodoh Dalam Pernikahan Keluarga Kontemporer. RESIPROKAL: Jurnal Riset Sosiologi Progresif Aktual, 1(1), 1–13. https://doi.org/10.29303/resiprokal.v1i1.1
[26] Roibin. (2013). Dialektika Agama dan Budaya dalam Tradisi Selamatan Pernikahan Adat Jawa di Ngajum, Malang. El Harakah: Jurnal Budaya Islam, 15(1), 34–47. https://doi.org/10.18860/el.v15i1.2671
[27] Safera, D., & Huda, M. C. (2020). Tradisi Suroan Sebagai Tapak Tilas Walisongo (Studi Di Desa Jatirejo Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang). Al-Mada; Jurnal Agama, Sosial Dan Budaya, 3(1), 66–79. https://doi.org/https://doi.org/10.31538/almada.v3i1.500
[28] Sarwanto, Widyastutieningrum, S. R., Nugroho, S., & Atmaja, N. R. A. C. D. (2017). Revitalisasi Seni Tradisi Dalam Upacara Pernikahan Adat Jawa. Prosiding Seni, Teknologi, Dan Masyarakat #2, 2, 174–178.
[29] Sembiring, E., & Christina, V. (2014). Kedudukan Hukum Perkawinan Adat Di Dalam Sistem Hukum Perkawinan Nasional Menurut UU No. 1 Tahun 1974. Journal of Law, Society, and Islamic Civilization (JoLSIC), 2(2), 72–94. https://doi.org/https://dx.doi.org/10.20961/jolsic.v2i2.50254
[30] Siburian, A. L. M., & Malau, W. (2018). Tradisi Ritual Bulan Suro pada Masyarakat Jawa di Desa Sambirejo Timur Percut Sei Tuan. Gondang: Jurnal Seni Dan Budaya, 2(1), 28–35. https://doi.org/10.24114/gondang.v2i1.9764
[31] Taufiq, O. H. (2017). Kafâah Dalam Pernikahan Menurut Hukum Islam. Jurnal Ilmiah Galuh Justisi, 5(2), 246–259. https://doi.org/10.25157/jigj.v5i2.795
[32] Yuliana, E., & Zafi, A. A. (2020). Pernikahan Adat Jawa dalam Perspektif Hukum Islam. AL-MASHLAHAH Jurnal Hukum Islam Dan Pranata Sosial Islam, 8(2), 315–326.
Published
2022-12-22
How to Cite
INDIANTORO, Alfalachu et al. Suro Month Wedding Prohibition: Islamic Perspective Customary Law Debate. Al-Hayat: Journal of Islamic Education, [S.l.], v. 6, n. 2, p. 174-184, dec. 2022. ISSN 2599-3046. Available at: <https://alhayat.or.id/index.php/alhayat/article/view/320>. Date accessed: 27 jan. 2023. doi: https://doi.org/10.35723/ajie.v6i2.320.